Because All Scars Are Beautiful

Halooo~ Ada yg ngga bisa tidur juga seperti saya malam ini?

Karena merasa tertohok sesuatu, maka saya mau nulis sesuatu di sini.

Orang bilang, cantik itu luka. Cantik itu menyakitkan. Berkebalikan dengan judul tulisan ini kan? Buat saya, semua luka itu cantik. Karena setiap orang pasti punya luka dalam dirinya. Luka fisik, luka batin, semuanya punya nilai estetis masing-masing.

Saya punya cukup banyak luka fisik. Dari luka bekas jatuh dari sepeda dan motor di tangan kanan dan kaki, bahkan luka bekas jerawat (yaelaaaah jerawat doang!). Punya niat untuk menghilangkan bekasnya? Oh tentu saja! Cuma, ngga memaksa dan usaha terlalu keras juga sih… Kadang luka-luka itu semacam hiasan di badan kita. Mengingatkan kita dengan apa yang kita capai dengan luka-luka tersebut. Trauma? Ada sedikit. Tapi beruntungnya saya tipe orang yang bisa pulih dari trauma. Bisa menghadapi ketakutan.

Contohnya, dulu waktu kuliah jatuh sampe keseret dari sepeda sampe baju, celana, sepatu sobek dan sepeda rusak dan baret. Beberapa hari ngga mau lewatin jalan tempat saya jatuh, tapi lama-lama terbiasa lagi. Begitu pula waktu kecelakaan motor sampe tangan patah. Sempet grogi banget mau naik motor lagi, tapi karena ada tujuan kuat malah jadi berani lagi. Kalau sakit sedikit aja kita langsung trauma, gimana rasanya bisa hidup bahagia ya?

Luka hati yang sebenarnya lebih membuat kita mudah trauma daripada luka fisik. Semua orang karakternya berbeda. Cara menghadapi masalah juga berbeda. Cara menyampaikan sesuatu juga bermacam-macam. Kekuatan hati tiap orang untuk menerimanya juga pasti beda. Kadang kita lupa, satu tindakan kecil yang kita lakukan kepada orang lain itu membekas jadi luka di hati orang tersebut. Ada yang bisa sembuh, tapi ada juga yang ngga bisa sembuh dan jadi dendam dan trauma sepanjang hidup.

Jadi, salah satu teman saya tadi mengeluh tentang betapa menyebalkan orang-orang dengan kepribadian introvert. Jujur, saya agak tersenggol karena saya juga introvert. Dia langsung menghakimi semua tipe introvert. Tampaknya sih dia terluka banget (eeew kok lebay ya). Tapi rasanya si teman saya ini belum punya cara yang tepat menghadapi tipe-tipe orang yang sulit ditebak ini. Makanya dia nyerah duluan. Coba tengok ke dalam diri sendiri dulu, kamu mau ngga diperlakukan sama seperti kamu memperlakukan orang lain. (Sok-sokan ceramah lagi lu, ty). Eh, tapi memang bener. Saya introvert, tapi setiap kali kenalan sama orang baru, pasti perhatiin dulu karakternya seperti apa. Nanti tinggal saya yang menyesuaikan. Kalau proses adaptasinya agak lama, ya nikmati aja. Ngga usah buru-buru. Misalnya nih, kalau suka banget ya jangan agresif-agresif amat, jangan ketauan banget. Ngga semua orang suka begitu.

Terus, bagaimana si introvert ini menyembuhkan luka-luka yang ditinggalkan orang lain karena kesalahpahaman ini? Wow! Saya sudah sering mengalami. Ditinggal teman karena malas menjelaskan latar belakang suatu masalah, dianggap terlalu dingin dan ketus. Ya sudah. Dilepas saja. Luka-luka itu tetap ada kok, tapi lewat semua luka yang sakit tapi cantik itu kita bisa lebih berantisipasi kalau di masa datang kita menghadapi situasi yang sama. Diobati dengan membahagiakan diri sendiri. Atau menyenangkan hati orang-orang yang paham tentang kepribadian kita ini.

Intinya, kita harus bisa terima kepribadian masing-masing orang. Kalau berkumpul sama yang mirip terus kan bosen. Accept it just as it is. Adjust yourself, not only push people to adjust themselves. Gitu yaaa… Luka itu buat kita makin cantik, makin dewasa dan makin tenang dalam hidup. (sok bener ya tapi lebih baik share hal yang positif daripada ngomel dan ngeluh terus, bikin yang baca mual dan pusing!) Kalau merasa ngga cocok,ya tinggal aja. Ketika merasa sudah sulit menyesuaikan, ya jangan maksa.

Sekian dan terima kasih, seamat menunggu subuh :))

Advertisements

Welcome, Quarter Life Crisis!

Hello! Still alive?

So glad to see you all are alive and still struggling with life. Ya, kinda same here. My quarter life is not so beautiful as i expected. But yaaa, that’s the real life and i’m being grateful of that. Since being a teenager, i through those hard times and crisis, until now. Trying to figure it out, but sometimes i messed it up.

My quarter life is colorful, up and down, high and low. I had so many issues inside of me and my environment. I cry a lot, i regret a lot, and i’m so mad with my life. But i hate to give up easily on my life. Just go somewhere far from home, trying something new, challenge myself sometimes, and find something new again whenever i get bored.

This stage of life is quite risky. Being a teenager, growing up and then being an adult with various kinds of problems are hard. Sometimes you just want to end your life instantly or just never wake up from your sleep. Big support from people that you loved are the best medicine of quarter life anxiety. And being open minded is the only thing you need.

I’m going to be 26 this year. I still live like a college student, but gladly i don’t have to go to school or write a thesis. I fight a lot with my family, but i choose to go away and shut my mouth up. Sometimes i broke too. Just always checking my bank account in the end of the month, thinking so hard about paying some bills, and send some money to my parents. Beside that, i feel lonely because some of my friends are getting married and having babies, and some of them are too busy with their work and their own life. I have a lot of insecurities about myself, and i still have so many things to deal with. I still cry a lot when i’m alone. But i stop blaming God about why i’m always suffer. And i’m not always suffer. I enjoy things that i like. I do the things that i love, even i’m not so good at it. I meet some friends and good people here. I’m feeling grateful of it. Enjoying my single life, my introvert and odd life.

I don’t make many goals like before. Just some specific things that i must do, before the chance is gone. Just be grateful of your quarter life, even it’s hard ya! There will be a best result of all of your efforts.

Cheers for the quarter life warriors out there!

One of My Favorite Things

Drawing and doodling is one of my favorite things selain makan, masak, baca buku dan nonton film. Dari berbagai macam metode menggambar dan mewarnai, paling nyaman bikin fan art seperti gambar di atas. Pake cat air dan drawing pen dan menjadikan perempuan sebagai objek gambar sebenarnya susah-susah gampang. Intinya suka nyontoh gambar :p Hal favorit ini salah satu pelepas stres dan pembunuh waktu luang terbaik. Suka lupa waktu bahkan bikin begadang.

Beberapa orang bilang karya yang aku bikin udah cukup bisa dikomersialkan. Tapi, masih bingung mau buat apa dan kadang belum pede sama hasilnya yg biasa2 aja ini. Daaan… terkadang kepikiran juga ngga banyak temen yang bisa apresiasi karya yang aku bikin dengan baik. Aku suka liat karya orang lain yg bagus, tapi ya ngga semua orang sama seperti aku kan? Mungkin sekarang aku cukup menjadikan ini sebagai hobi dulu, sambil menambah skill menggambar yang pas-pasan ini.

Reuni Terakhir

Jika mendengar kata reuni, pasti terbayang pertemuan dengan teman-teman lama dengan penuh kerinduan dan kesenangan. Tapi tidak dengan reuni yang kudatangi hari ini. Mungkin ini pengalaman pertama dan terakhirku datang ke rumahmu. Pagi ini, aku mengumpulkan kekuatan untuk datang ke pertemuan ini setelah semalaman perasaanku kacau. Aku hanya datang berdua, bersama seorang teman yang juga mengenalmu dalam kurun waktu yang sama. Berbaju gelap, kami berusaha mencari letak rumahmu. Kami yakin di rumah mana terdapat keramaian, di sana pasti rumahmu. Kami sampai tersasar cukup jauh. Kami disambut oleh seorang pria dan seorang wanita yang kami duga adalah kedua orang tuamu. Aku memberi senyum dan menyalami. Tampak jelas raut wajah ibumu, yang lelah, matanya sembab dan sangat sedih. Ayahmu, tampak polos namun berusaha menguatkan dirinya walau jelas sekali kudengar suaranya bergetar menyambut kami.

Kamu tahu, jauh sebelum hari ini tiba, aku pernah memikirkan apa yang kulakukan hari ini.

“Kenapa semua kabarnya bahagia? Apa rasanya kehilangan teman baik?”

“Diantara semua kabar bahagia ini, harusnya ada yang berduka, kan?”

Pikiran itu membawaku pada momentum yang kusaksikan hari ini. Saat pertama kali aku mendapatkan kabar tentangmu, aku pikir ini berita bohong. Mungkin namanya mirip. Atau mungkin ini bercanda. Aku tak menangis untuk sesuatu hal yang belum bisa kulihat sendiri. Sampai tadi, aku benar-benar sampai di rumahmu. Rumah teman yang kukenal sejak berseragam putih biru. Teman yang bisa diandalkan soal mata pelajaran yang paling kubenci. Teman yang kedewasaannya kukagumi. Teman yang kepribadiannya membuatku iri. Teman yang membuatku berani jujur, dewasa dan menyingkirkan ego. Dan teman yang membuatku jatuh hati sekaligus patah hati dan membantuku sembuh kembali.

Kami duduk ditemani ayahmu. Kamu tak tampak di sekitar rumah. Tempat pembaringanmu tertutup kain prada berkilau. Sembari menenangkan diriku untuk tidak menangis, kami mengobrol tentang keadaanmu. Kulihat lagi wajah sedih itu. Suara bergetar itu. Perasaan tak percaya itu. Seorang ayah yang membanggakan putra pertamanya. Seorang ayah yang bercerita tentang kedekatan anaknya dengan teman-teman semasa sekolahnya. Aku masih bisa tersenyum, tapi tak banyak berkata karena takut tak bisa menahan tangis. Setelah ayahmu, duduk seorang perempuan sebaya kami dan bertanya apakah kami temanmu semasa sekolah. Seperti tebakanku, dia istrimu. Dia bercerita bagaimana hari-hari sebelum kamu pergi. Kami tahu cerita yang sebenarnya. Dengan tegar dia bercerita kronologi pada hari sebelum kamu pergi. Namun, setegar-tegarnya wanita, ia pasti menangis. Lagi, kutahan tangisku agar tak membuatnya makin sedih.

Patah hatiku semakin dalam ketika melihat seorang anak laki-laki di depanku. Caranya tersenyum dan tertawa mengingatkanku padamu. Dia mirip kamu, anak laki-laki semata wayangmu. Aku melihatnya tertawa dan tersenyum. Nampaknya dia belum tahu kalau itu hari terakhirnya bisa melihatmu. Aku hanya tak bisa membayangkan jika aku seperti mereka. Perbincanganku dengan ayah mertuamu pun membuatku teringat lagi akan kenangan semasa sekolah. Akhirnya kita sampai ke reuni hari ini. Setelah terakhir kali bertemu saat kelulusan SMA, kita bertemu lagi hari ini. Aku yakin kamu tahu aku hadir. Aku yakin kamu melihat aku datang. Maaf ya, aku mengurungkan niatku melihat wajahmu untuk terakhir kalinya. Aku takut kalau kamu melihatku menangis. Sejak dulu kan aku tidak pernah menangis di depanmu. Aku juga taku jika nanti kamu ikut bersedih.

Aku baru ingat kapan terakhir kali berkomunikasi denganmu. Empat tahun lalu, saat aku bertanya tentang kabar pernikahanmu. Dan aku sudah menepati janji empat tahun lalu, datang ke rumahmu dan melihat anak laki-laki semata wayangmu. Tampan, dan aku yakin ia akan sepintar ayah dan ibunya. Senyumnya mirip sepertimu. Ia tampak baik-baik saja saat itu. aku hanya berpikir, bagaimana kelak menjelaskan padanya bahwa kamu pergi terlalu cepat, dengan cara yang tragis?

Sampai detik ini pun rasanya ini seperti mimpi. Kemarin datang ke rumahmu dan menyaksikan sendiri keramaian di rumahmu. Menyaksikan betapa keluargamu sangat bersedih atas kepergianmu. Mendengar cerita mereka, kukira perjuanganmu hampir berhasil. Aku tahu kamu selalu berusaha dan berjuang. Tapi, kami tak pernah tahu bebanmu selama ini, apa yang membawamu mengakhiri hidupmu lebih cepat. Hatiku benar-benar patah, menerima kenyataan bahwa sahabatku benar-benar pergi dan kami mengingat segala kebaikanmu semasa hidup.

Berkat kamu, reuni ini bukan lagi sekadar wacana. Kami bertemu kembali, sedikit menebar senyum dan bertanya kabar di sela rasa kehilangan kami. Hubungan yang lama terputus terjalin kembali berkat rasa yang sama, rasa kehilangan. Kami yang tak pernah saling berkabar, kini saling berbagi tentang kesan yang kamu tinggalkan pada masing-masing dari kami. Perbincangan yang membangkitkan kenangan semasa sekolah, kegembiraan, kesedihan, jatuh cinta, patah hati, kesetiaan, persahabatan, dan semua tingkah kita di masa muda terputar kembali di kepala. Jika memang dengan cara ini hidupmu harus berakhir, kami hanya bisa mengirimkan doa agar hidupmu nyaman di atas sana. Jika aku tahu kamu pergi lebih cepat, seharusnya aku bisa lebih sering bertanya kabar, atau sedikit menyemangatimu. Karena kamu tidak pernah menyemangatiku, tapi kamu selalu menyelipkan motivasi di setiap perbincangan kita di jam istirahat atau di jam pulang sekolah walau terkadang bagiku terdengar menyebalkan.

Jika aku tahu ini adalah reuni terakhir denganmu, harusnya kita simpan satu foto bersama sebagai kenang-kenangan. Harusnya lebih banyak mimpi-mimpi yang kita ceritakan bersama. Harusnya lebih banyak waktu yang kita luangkan untuk bercerita tentang kehidupan menjadi manusia dewasa. Dan seharusnya aku tak perlu menulis cerita ini dengan perasaan yang tak karuan. Sayangnya semua ini nyata, sayangnya kamu benar-benar pergi.

Selamat jalan ya, teman senasib seperjuangan. Teman sekaligus saingan di masa mudaku. Teman berdebat sekaligus pemberi solusi untukku. Teman sekaligus pria pertama yg kukagumi di masa puberku.

Selamat jalan, semoga kita bisa bertemu dan bersahabat lagi di kehidupan selanjutnya ya 🙂

Mei 2016